SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA PAROKI SANTO PETRUS DAN PAULUS TEMANGGUNG
Perkembangan Gereja dan penyebaran agama Katolik di Nusantara bersamaan dengan kolonialisasi. Oleh karena itu, seringkali agama Katolik diidentikkan sebagai agama warisan kolonial. Karya Gereja melalui para misionarisnya sampai ke Jawa ini tentu dengan membawa misi khusus, yang salah satunya adalah misi pendidikan. Pada waktu itu, misi Jesuit membeli tanah di Temanggung untuk memulai karyanya di bidang pendidikan. Misi Jesuit mendirikan bangunan di belakang gereja sekarang. Tempat ini pada bagian depan dipergunakan untuk sekolah Standaart School (dulu Schakelschool) dan pada bagian belakang dibangun kapel kecil dengan memakai pelindung St. Antonius dari Padua oleh Romo Prenthaler. Kehadiran kapel St. Antonius dari Padua membawa suka cita bagi umat Katolik Temanggung karena mereka memiliki tempat untuk merayakan misa. Waktu itu, umat Katolik di Temanggung belum banyak, hanya ada kring wetan gereja dan kring kulon gereja (sampai tahun 1959/1960). Pada waktu clash kedua, banyak peristiwa mengerikan. Bangunan-bangunan misi di berbagai tempat dibumi hanguskan. Di Temanggung, bangunan kapel Biara Budi Mulia di Rawaseneng dihancurkan. Meski demikian kapel St. Antonius dari Padua luput dari penghancuran itu Perkembangan umat yang meningkat membuat kapel St. Antonius dari Padua kurang mampu untuk menampung jumlah umat yang ada. Oleh karena itu, dibentuklah panitia pembangunan gereja yang diketuai oleh Rm. Harjowasito, Pr. Paroki diberi sebagian tanah Misi Jesuit untuk mendirikan bangunan gereja yang mampu menampung jumlah umat yang semakin berkembang. Pembangunan gereja dimulai pada akhir Desember 1957 dengan membongkar bangunan sekolah sekolah Standaart School dan kapel St. Antonius dari Padua. Rm. Harjowasito, Pr yang menjadi ketua panitia pembangunan gereja mesti ngelaju dari Magelang selama proses pembangunan gereja. Tanggal 1 Desember 1959, ketika bangunan gereja hampir jadi Rm. Harjowasito sudah menetap di Temanggung. Kerja keras dari panitia dan semangat dari umat akhirnya membuahkan hasil. Gedung gereja baru selesai dibangun. Pada hari Sabtu, 21 Maret 1959, pukul 16.00 WIB dilakukan pemberkatan serambi Gedung gereja, pastoran sekaligus SR dan SMP Kanisius oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Keesokan harinya, hari Minggu Palma tanggal 22 Maret 1959 pukul 07.00 WIB dilakukan pemberkatan gereja dan pemberian nama pelindung St. Petrus dan Paulus juga oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. 16 | Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Pastoral Paroki Temanggung
Seiring berjalannya waktu dinamika Paroki St. Petrus dan Paulus mengalami pasang surut. Dinamika itu dapat kita lihat sebagai berikut:
- Kring dan Stasi yang terbentuk pada awal berdirinya paroki terus mengalami perubahan dan perkembangan menjadi Wilayah.
- Stasi St. Maria dan Yosef Rawaseneng berkembang menjadi Paroki Administratif. (penetapan tidak diketahui secara pasti)
- Stasi Keluarga Kudus Parakan dinaikkan statusnya menjadi Paroki Administratif pada tanggal 1 Januari 1984 dan menjadi paroki mandiri pada tanggal 8 Oktober 2005.
- Wilayah St. Paulus Sriwungu sejak tahun 2008 berubah statusnya menjadi Lingkungan karena umatnya yang turun drastis.
- Pemetaan wilayah dan lingkungan pada awal tahun 2009 menata wilayah-wilayah dan lingkungan-lingkungan sesuai dengan ketentuan Keuskupan Agung Semarang. Sehingga beberapa wilayah berubah statusnya menjadi lingkungan dan harus bergabung dengan lingkungan atau wilayah lain. Paroki Administratif St. Maria dan Yosef Rawaseneng berubah statusnya menjadi wilayah, salah satunya karena jumlah umat sedikit dan penetapan status sebagai paroki administratif tidak diketahui secara pasti. Sebelum pemetaan wilayah dan lingkungan, tercatat ada 16 wilayah dengan 48 lingkungan dan 1 Paroki Administratif. Hasil pemetaan tahun 2009 diperoleh 12 wilayah dengan 34 lingkungan.
- Perkembangan berikutnya pada tahun 2012 terdapat 12 wilayah dengan 35 lingkungan, awal tahun 2015 terdapat perkembangan jumlah lingkungan menjadi 36 lingkungan, dan pada tahun 2018 kembali terjadi perkembangan jumlah lingkungan menjadi 37 lingkungan.
SEJARAH KAPEL-KAPEL